KUD Sidomukti Kec. Sumbermanjing Wetan – Malang Hasil Penilitian “Tiga Roda” Untuk Petani Tebu an image

Banyak masalah yang dihadapi oleh para petani tebu, terutama dalam rangka pelaksanaan program TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi). Masalah - masalah tersebut antara lain, petani dengan lahan yang sempit dan pengairan yang baik, umumnya sangat berat untuk merelakan lahannya ditanami tebu.

Alasannya cukup masuk akal. Lahan yang mereka miliki itu merupakan sumber penghasilan bagi kepentingan hidup seluruh keluarga. Apabila lahannya ditanami tebu, maka mereka terlalu lama menunggu hasil yang akan mereka terima. Sedangkan bila lahannya ditanami padi atau palawija, hasilnya sudah dapat diperoleh dalam waktu 4 atau 5 bulan, bahkan dapat lebih singkat lagi. Agar mereka dapat menanam sesuai dengan keinginan, maka mereka akan mengulur - ulur waktu penyerahan lahannya untuk ditanami tebu. Masalah ini sering timbul, sehingga dapat mengakibatkan bergesernya saat tanam dan mengacaukan jadwal giling.

Menurut Sukamdi, ketua, petani anggota peserta TRI KUD Sidomukti, kebanyakan memiliki modal kecil dan lahan yang sempit. Kenyataan ini mengharuskan mereka bertindak lebih selektif dalam memilih pola usaha tani. Tanaman pangan seperti padi dan palawija masih menjadi alternatif utama pada lahan beririgasi (sawah). Hal itu disebabkan oleh faktor harga dan cepatnya petani menerima hasil. Selain itu, biaya yang harus dikeluarkan untuk usaha tani (padi dan palawija) tersebut lebih kecil dibandingkan dengan biaya usaha tani tebu.

“Dalam usaha membantu petani membiayai usaha tani tebu, diharapkan pemerintah maupun kalangan swasta dapat memberikan kredit yang disalurkan melalui koperasi sangat diperlukan bagi kelancaran produktivitas para petani tebu,”harapnya.

Untuk meningkatkan hasil pendapatan dari keberadaan petani tebu dewasa ini, lanjut Sukamdi, dibutuhkan penelitian yang komprehenshif bagi usaha tebu dan juga sangat diperlukan bantuan baik dari pihak pemerintah melalui departemen pertanian dan perkebunan maupun dari pihak swasta antara lain berupa penyaluran dana untuk produksi, bimbingan dan penyuluhan tanaman tebu dan pentingnya manajemen finansial serta operasionalisasi bagi masyarakat petani tebu khususnya di daerah Malang melalui fungsi koperasi.

“Langkah yang tepat menurut saya untuk menjaga kualitas tebu yang baik diperlukan sebuah penelitian yang komprehenshif pertebuan,”tuturnya. Sukamdi lebih jauh mengurai bahwa tujuan penelitian itu adalah: a. Untuk mengetahui bagaimana peran koperasi dalam meningkatkan pendapatan petani tebu. b. Untuk mengidentifikasi factor - faktor yang mempengaruhi dalam meningkatkan pendapatan petani tebu.

Pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive) yaitu salah satunya bisa di KUD Sidomukti Kecamatan Sumbermanjing Wetan, dengan pertimbangan bahwa koperasi tersebut salah satu usahanya bergerak di bidang agribisnis (tebu dan jagung).

Kata Sukamdi, Tim Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang pernah melakukan penelitian dengan pengambilan sampel dilakukan secara sengaja menggunakan metode purposive sampling yaitu secara sengaja mengambil sampel di Koperasi Jasa Usaha Bersama (KJUB) dengan jumlah sampel sebanyak 35 responden. Berdasarkan data - data yang ada dan hasil analisa yang telah diuraikan pada waktu itu, dihasilkan nilai R Square sebesar 0,281 yang berarti koefisien determinasi yang dihasilkan adalah sebesar 82,1%. Sedangkan sisanya sebesar 17,9% (100% - 82,1%) dipengaruhi oleh faktor lain variabel bebas merupakan faktor yang paling berpangaruh terhadap pendapatan.

Nilai Standard Error of The Estimate (SEE) sebesar 0,64 semakin kecil nilai SEE yang dihasilkan. Semakiin baik terhadap pendapatan . Dari hasil perhitungan Uji F (Secara simultan) sebesar 21,388 dengan nilai kepercayaan sebesar = 0,05%) sedangkan f tabel sebesar 2,36 karena nilai f hitung ?9,5% (> dari pada f tabel maka (Ho) ditolak dan (H1) diterima secara simultan variabel bebas berpengaruh terhadap pendapatan. Hasil uji secara parsial diketahui bahwa variabel pemenuhan kebutuhan terhadap anggota paling berpengaruh dibandingkan variabel bebas lainnya yang memiliki nilai sebesar 0,29 t satuan > daripada nilai satuan variabel bebas lainnya.

“Sekarang sudah waktunya dilakukan penelitan kembali untuk mencari data yang akurat, agar petani tebu kembali bergairah,”kata Sukamdi, mengakhiri


Berita Lainnya