KUD Setia Kawan - Nongkojajar TINGKATKAN PASOKAN SUSU, MANFAATKAN KOTORAN SAPI an image

Gerakan koperasi, khususnya koperasi yang bergerak di bidang budidaya sapi perah, semakin menyadari pentingnya memanfaatkan kotoran sapi untuk diproses menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Minimal produk yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri yakni menjadi biogas sebagai energi alternatif.

Pemrosesan kotoran sapi menjadi energi alternatif itu telah banyak dilakukan koperasi di Jawa Timur, diantaranya Koperasi Unit Desa (KUD) Setia Kawan, yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Koperasi Peternak Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan Nongkojajar, Kab. Pasuruan. Bahkan koperasi tersebut telah berhasil mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 Juni 2012 lalu, dalam kategori kelompok penyelamat lingkungan.

Per Juni 2012 KUD Setia Kawan tercatat telah membangun 883 unit biogas melalui pemanfaatan limbah kotoran sapi yang dikelola koperasi tersebut dengan populasi sebanyak 17.765 ekor, untuk keperluan memasak, lampu penerangan serta memanaskan air. Pengolahan biogas mencapai 883 unit bagi sekitar 1.253 kepala keluarga (KK) dan pada 2015 ditargetkan naik menjadi 3.500 KK. Apabila target sebesar itu tercapai, maka bisa menjangkau separoh dari anggota KUD Setia Kawan berjumlah 7.747 orang dapat beralih ke biogas rumah tangga.

Biaya membangun reaktor biogas rumah tangga tergantung dari volumenya. Ukuran 6 m3 sebesar Rp6,3 juta, ukuran 8 m3 Rp7 juta, 10 m3 Rp8 juta dan 12 m3 Rp8,8 juta. KUD Setia Kawan bekerjasama dengan LSM dari Belanda yakni Hivos dan SNV, dimana LSM tersebut memberikan bantuan Rp2 juta per KK dan sisanya diperoleh dengan mencari pinjaman ke bank. Dengan demikian, anggota tidak mengeluarkan modal sendiri untuk pembuatan reaktor biogas. Itulah salah satu bentuk manfaat yang diberikan koperasi kepada anggotanya.

Desain reaktor biogas cukup efektif dan tahan lama, sehingga bernilai ekonomis bagi penggunanya. Dengan perawatan yang tepat, reaktor biogas bisa bertahan selama 20 – 30 tahun. Bahan bakar tersebut lebih hemat dibandingkan penggunaan elpiji dan minyak tanah. Peternak dengan kepemilikan 2 – 3 ekor sapi bisa mendapatkan biogas untuk memasak maupun penerangan rumah.

Secara teknis, proses kerja reaktor biogas rumah tangga memanfaatkan 6 komponen yakni saluran masuk atau inlet (ruangan pencampur untuk tempat masuknya kotoran hewan), reaktor (ruang penguraian anaerob), penampungan gas (ruang penyimpanan), saluran keluar/outlet (ruang pemisah), sistem pengangkut gas dan lubang endapan (sisa olahan reaktor biogas).

Wilayah kerja KPSP Setia Kawan mencakup 12 desa di Kec. Tutur Nongkojajar. Cikal bakal kegiatan peternakan sapi perah di kawasan itu telah berlangsung sejak 1911. Semula tujuan peternakan sapi perah untuk mencukupi kebutuhan susu segar bagi orang Belanda. Namun, lama kelamaan orang-orang Nongkojajar sangat tertarik beternak sapi perah bertujuan menghasilkan pupuk [dari kotoran sapi] untuk tanaman sayur-mayur dan sebagai simpanan guna memperoleh keuntungan.

Sementara produksi susu per tahun buku 2012 adalah 23 ribu ton per hari, jumlah populasi sapi perahnya 18 ribu ekor, dengan anggota 7,941 orang. Sedangkan omzetnya Rp. 118 Miliar, dengan asset Rp. 67 Miliar. SHU yang diperoleh di tahun buku 2012 juga cukup besar sekitar Rp. 1,9 Miliar


Berita Lainnya